Setelah menyerahkan Aliah kepada Gahara, Banu meninggalkan Gahara menikmati makanan yang dibawanya bersama Aliah, Gahara kembali ke Kampung Surya dengan langkah hati-hati. Saat tiba di lokasi di mana ia menangkap Aliah, ia melihat rombongan wanita yang sebelumnya bersama Aliah sedang berjalan mendekatinya.

"Seharusnya Aliah sudah kembali. Kenapa dia malah lama di sana?" tanya salah satu wanita di rombongan.

"Mungkin dia sedang tergoda oleh salah satu pria di sana," jawab yang lain sambil terkekeh.

"Ah, mana mungkin dia tergoda dengan pria lain. Apa kalian tidak tahu bagaimana sikap dia kalau sudah membicarakan kepala suku?" celetuk yang lain sambil menutup mulutnya menahan tawa.

Banu segera melangkah mendekati mereka sebelum mereka menemukan sisa makanan yang tumpah. Dengan senyum dipaksakan, ia bertanya, "Kalian mau ke mana?"

"Banu, kami ingin mencari Aliah. Dia mengantarkan makanan untuk para penjaga, tapi belum juga kembali," jawab salah seorang wanita.

"Bukankah dia sudah kembali tadi? Katanya dia sakit perut. Aku sempat berpapasan dengannya, dia berjalan cepat ke arah rumahnya," kilah Banu dengan nada meyakinkan.

Mendengar jawaban itu, para wanita berbalik arah dan kembali menuju Kampung Surya.

"Hampir saja. Untung aku cepat kembali dan mereka percaya ceritaku," gumam Banu lega. "Sebaiknya aku membereskan tempat ini dulu sebelum ada yang curiga." Ia segera membersihkan sisa makanan yang tumpah. Saat menangkap Aliah, ia sudah membawa serta bungkusan makanan, tetapi jejak sisa makanan yang berceceran masih terlihat di lokasi itu.

Beberapa saat kemudian, Banu memperhatikan keadaan di sekitar rumah Leena. Sebagai wakil kepala suku, banyak warga yang datang melaporkan keadaan kampung secara bergantian.

"Aku harus cepat sebelum penduduk menyadari Aliah menghilang dan rencanaku berantakan," pikirnya sambil melangkah ke arah Leena saat melihat suasana sudah sepi.

Saat itu, setelah menerima laporan mengenai kondisi kampung, Leena sedang duduk di depan rumahnya, tampak melamun. Melihat Banu datang dengan wajah tegang, ia menoleh.

"Banu? Ada apa?" tanya Leena dengan heran.

"Leena," kata Banu dengan nada serius, "Aku diserang di jalan tadi oleh seseorang dari luar suku. Dia menculik Aliah."

Leena tersentak. "Siapa dia? Bagaimana mungkin orang luar masuk ke tempat ini tanpa diketahui para penjaga? Ceritakan semuanya!"

Banu mulai menguraikan cerita yang telah ia susun sebelumnya. "Saat aku hendak berburu, aku menemukan sebuah jalan rahasia. Ketika aku ingin memeriksanya, tiba-tiba seorang pria tua keluar dari tempat itu dan menyerangku. Ketika kami bertarung, Aliah yang membawa makanan mendekat, dan pria tua itu menggunakannya untuk mengancamku. Dia menyebut namanya Gahara dan mengatakan ingin berbicara langsung dengan kepala suku."

Leena tertegun. "Gahara?" pikirnya, teringat cerita Jelita tentang seorang tetua dari suku Yaksa yang mengkhianati mereka. "Tetua Gahara, dia yang menyerahkanku kepada perampok, dia juga menjebak para tetua dan kepala suku sehingga tertangkap dan akan diserahkan kepada suku Monrest jika kepala suku Lynx tidak datang menolong kami," gumamnya.

Wajah Leena berubah khawatir. "Kita harus memberitahu yang lain!"

Namun, Banu menggeleng cepat. "Tidak. Gahara mengatakan jika kita memanggil orang lain, Aliah tidak akan selamat. Dia ingin kepala suku datang sendirian."

"Tapi kepala suku sedang tidak ada di sini," jawab Leena, semakin cemas.

"Aku sudah memberitahunya. Tapi karena dia sedang jauh, Gahara memintamu sebagai wakil kepala suku. Kita harus cepat sebelum Aliah celaka," desak Banu.

Leena terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tetapi matanya menatap Banu dengan curiga. "Kenapa aku harus percaya padamu, Banu?" tanyanya tajam. Dia merasa sedikit curiga karena selama ini sikap Banu beberapakali secara terang-terangan bertolak belakang dengan Lynx dan suka menyalahkannya.

Banu mencoba meyakinkannya. "Aku hanya ingin membantu. Jika kau tidak percaya, Aliah akan mati."

Leena akhirnya mengangguk. "Baiklah. Beri aku waktu sebentar untuk mengambil senjata."

Di dalam kamarnya, Leena yang merasa curiga menuliskan pesan singkat di selembar kain kulit hewan: "Aliah ditangkap. Aku dan Banu mengejar Gahara. Hati-hati." Ia menjatuhkan kain itu di depan pintu sebelum keluar tanpa sepengetahuan Banu, berharap seseorang akan menemukannya.

"Baiklah, kita berangkat sekarang. Tunjukkan jalannya," kata Leena setelah siap. Ia mengikuti Banu dengan hati-hati, memendam kecurigaan di dalam dirinya.

Tidak berapa lama, Marni, perempuan yang pernah ditolong oleh Lynx, datang bersama anaknya ke rumah Leena. Sejak tinggal di Kampung Surya, Marni dan anaknya rutin membawakan makanan untuk Lynx dan Leena, serta membantu Leena mengurus berbagai keperluannya.

"Leena..." terdengar suara Marni memanggil dari depan rumah. Setelah menunggu beberapa saat, Marni memanggil lagi, tapi tetap tidak ada jawaban.

Marni menghela napas. "Apakah Leena sedang keluar rumah? Tapi bukankah dia belum makan?" pikirnya.

Ia memutuskan masuk ke rumah Leena, lalu meletakkan makanan di atas meja seperti biasanya. Setelah memastikan rumah itu kosong, Marni menggandeng tangan anaknya, bersiap untuk pulang.

"Ibu, apa ini?" tanya Toni, anak Marni, sambil menyodorkan selembar kain bergaris-garis yang ia temukan di dekat pintu rumah Leena.

Marni mengambil kain itu dan memeriksanya. "Sepertinya ini tulisan, tapi ibu tidak tahu apa artinya," gumamnya.

"Jadi ini semacam surat, Bu?" tanya Toni.

"Entahlah. Ibu tidak mengerti tulisan seperti ini," jawab Marni sambil menggandeng Toni. "Ayo kita pulang sekarang. Ibu akan membuatkanmu daging macan goreng tepung."

Mendengar itu, Toni tersenyum lebar dan menggandeng tangan ibunya lebih erat. Ia tak sabar membayangkan masakan favoritnya.

Dalam perjalanan pulang, Marni melihat Mochi, sedang duduk santai menikmati suasana.

"Kakek Mochi, apa ini?" tanya Marni sambil menyodorkan kain yang ia temukan. "Aku menemukannya di depan rumah kepala suku. Aku pikir ini bisa dipelajari, jadi aku ambil."

Mochi menerima kain itu dan mulai membacanya. Seketika wajahnya berubah serius. "Aliah ditangkap?! Apa kamu tahu ke mana arah perginya Leena?"

Marni, yang tak menyangka masalah ini begitu serius, menggeleng. "Aku tidak melihatnya, Kakek."

Mochi berdiri dengan sigap. "Aku akan segera mencarinya. Kau temui para tetua lainnya dan juga Kael, Narendra, Arkha, serta Lala. Beritahu mereka segera." Tanpa menunggu jawaban, Mochi berlari menuju rumah Leena untuk mencari petunjuk lebih lanjut.

Sesampainya di sana, Mochi memeriksa setiap sudut rumah. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaan Leena maupun jejak lainnya. "Tidak ada petunjuk apa pun di sini," gumam Mochi. "Aku harus bertanya kepada penduduk sekitar."

Mochi mulai bertanya satu per satu kepada warga kampung. Sayangnya, tidak ada yang tahu keberadaan Leena atau Banu.

Hingga seorang wanita yang sempat bertemu Banu sebelumnya berkata, "Aku melihat Banu di hutan dekat kaki gunung besar tadi. Ada apa, Kakek Mochi? Kenapa terlihat begitu panik?"

Mochi mengangguk serius. "Aliah diculik seseorang. Aku harus menolongnya. Beritahu yang lain tentang lokasi mereka."

Setelah memberi pesan itu, Mochi berlari cepat menuju arah yang ditunjukkan oleh wanita tersebut, berharap bisa menemukan jejak Leena sebelum terlambat.

***

Setelah menempuh perjalanan panjang tanpa hasil, Lynx akhirnya tiba di hutan yang dikenalnya.

"Aku kembali ke tempat ini lagi. Seharusnya kampung para perampok ada di dekat sini," gumamnya sambil memperhatikan sekitar. "Aku harus berhati-hati dan memastikan tidak terjebak lagi."

Ia melompat ke atas pohon yang tinggi, memfokuskan penglihatannya, dan menggunakan kemampuan tembus pandangnya untuk memeriksa area sekitar. Dengan lompatan hati-hati, Lynx bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya, menghindari kemungkinan terdeteksi.

Setelah beberapa saat, ia mulai menemukan para penjaga yang tersembunyi dengan sangat rapi.

"Untung aku punya kekuatan tembus pandang. Tanpa ini, aku pasti sudah ketahuan, dan mereka akan siap menyerangku," pikirnya sambil terus mencari celah untuk menyusup.

Lynx dengan gesit bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Terkadang ia harus memanjat lebih tinggi untuk menghindari pantauan para penjaga. "Mereka benar-benar meningkatkan kewaspadaan. Ini jelas dipersiapkan untukku," batinnya.

Lynx mencoba menyelidiki keadaan didalam kampung perampok, namun tidak berhasil karena jauh. "Aku harus masuk kedalam kampung agar mudah menyelidiki sekitarnya." batinnya.

